Peneliti Pastikan Istilah ‘Gemuk Tapi Sehat’ Hanya Mitos

Thursday, May 21, 2015 @ 06:05 AM
posted by admin
Istilah gemuk tapi sehat masih sering didengar di keseharian. Artinya, terdapat orang-orang gemuk yang nyatanya tidak memiliki masalah kesehatan. Padahal, sebenarnya kondisi ‘gemuk tapi sehat’ hanyalah sebuah fase masalah kesehatan yang tertunda.
Ya, studi yang dilakukan peneliti di University College London menegaskan bahwa keadaan gemuk tapi sehat hanya fase tertunda dari makin gemuknya seseorang yang dibarengi dengan gangguan kesehatan. Untuk studi ini, peneliti melibatkan sekelompok pekerja usia 39-62 tahun.
Selama 20 tahun, perubahan kesehatan peserta akan dicatat dengan interval lima tahun. Di awal penelitian, 66 peserta diberi label ‘orang dewasa gemuk yang sehat’ dengan BMI lebih dari 30 dan tingkat metabolisme, termasuk kolesterol, tekanan darah, dan gula darah yang normal.
Nah, setelah 20 tahun diamati, separuh dari peserta telah membuat catatan bahwa fungsi metabolik mereka menjadi tidak sehat, meskipun tanpa disertai perubahan berat badan. Dikatakan ketua peneliti, Joshua Bell, waktu adalah faktor utama terjadinya perubahan tersebut.
“Memang untuk satu waktu tertentu, kelebihan bobot belum terlihat pengaruhnya pada fungsi metabolisme tubuh dilihat dari kadar kolesterol, tekanan darah, dan gula darah. Tapi seiring berjalannya waktu, fungsi metabolisme ini pun akan terganggu,” tutur Bell.
“Dengan kata lain, istilah gemuk tapi sehat atau fit outside fat inside tidak ada. Karena dalam jangka waktu panjang, bagaimanapun kegemukan bisa berakibat buruk pada kesehatan” imbuh Bell dalam laporannya di Journal of The American College of Cardiology, dikutip pada Selasa (27/1/2015).
Ditambahkan kandidat doktor di University College London’s Department of Epidemiology and Public Health ini, bagaimanapun kelebihan lemak bisa mengacaukan keseimbangan hormon di tubuh. Bahan kimia penyebab peradangan pun bisa lebih banyak diproduksi dan dapat mengakibatkan resistensi insulin. Meskipun, perbedaan distribusi lemak juga memengaruhi.
“Orang ‘gemuk tapi sehat’ yang lemaknya tidak menumpuk di perut, bisa mempertahankan status tersebut lebih lama. Orang dengan BMI normal lebih rendah risikonya terkena diabetes. Kemudian, dalam studi ini, 24% orang dengan BMI normal memiliki fungsi metabolik yang baik. Sedangkan, 70% orang ‘gemuk tapi sehat’ lama-lama akan mengalami gangguan pada fungsi metabolismenya,” papar Bell.

Peneliti Pastikan Istilah ‘Gemuk Tapi Sehat’ Hanya Mitoshttp://health.detik.com/read/2015/01/27/111718/2814948/763/peneliti-pastikan-istilah-gemuk-tapi-sehat-hanya-mitos
Jakarta, Istilah gemuk tapi sehat masih sering didengar di keseharian. Artinya, terdapat orang-orang gemuk yang nyatanya tidak memiliki masalah kesehatan. Padahal, sebenarnya kondisi ‘gemuk tapi sehat’ hanyalah sebuah fase masalah kesehatan yang tertunda.
Ya, studi yang dilakukan peneliti di University College London menegaskan bahwa keadaan gemuk tapi sehat hanya fase tertunda dari makin gemuknya seseorang yang dibarengi dengan gangguan kesehatan. Untuk studi ini, peneliti melibatkan sekelompok pekerja usia 39-62 tahun.
Selama 20 tahun, perubahan kesehatan peserta akan dicatat dengan interval lima tahun. Di awal penelitian, 66 peserta diberi label ‘orang dewasa gemuk yang sehat’ dengan BMI lebih dari 30 dan tingkat metabolisme, termasuk kolesterol, tekanan darah, dan gula darah yang normal.
Nah, setelah 20 tahun diamati, separuh dari peserta telah membuat catatan bahwa fungsi metabolik mereka menjadi tidak sehat, meskipun tanpa disertai perubahan berat badan. Dikatakan ketua peneliti, Joshua Bell, waktu adalah faktor utama terjadinya perubahan tersebut.
“Memang untuk satu waktu tertentu, kelebihan bobot belum terlihat pengaruhnya pada fungsi metabolisme tubuh dilihat dari kadar kolesterol, tekanan darah, dan gula darah. Tapi seiring berjalannya waktu, fungsi metabolisme ini pun akan terganggu,” tutur Bell.
“Dengan kata lain, istilah gemuk tapi sehat atau fit outside fat inside tidak ada. Karena dalam jangka waktu panjang, bagaimanapun kegemukan bisa berakibat buruk pada kesehatan” imbuh Bell dalam laporannya di Journal of The American College of Cardiology, dikutip pada Selasa (27/1/2015).
Ditambahkan kandidat doktor di University College London’s Department of Epidemiology and Public Health ini, bagaimanapun kelebihan lemak bisa mengacaukan keseimbangan hormon di tubuh. Bahan kimia penyebab peradangan pun bisa lebih banyak diproduksi dan dapat mengakibatkan resistensi insulin. Meskipun, perbedaan distribusi lemak juga memengaruhi.
“Orang ‘gemuk tapi sehat’ yang lemaknya tidak menumpuk di perut, bisa mempertahankan status tersebut lebih lama. Orang dengan BMI normal lebih rendah risikonya terkena diabetes. Kemudian, dalam studi ini, 24% orang dengan BMI normal memiliki fungsi metabolik yang baik. Sedangkan, 70% orang ‘gemuk tapi sehat’ lama-lama akan mengalami gangguan pada fungsi metabolismenya,” papar Bell.

Sumber : http://health.detik.com/read/2015/01/27/111718/2814948/763/peneliti-pastikan-istilah-gemuk-tapi-sehat-hanya-mitos

Leave a Reply