Archive for July, 2015

Niteworks, Produk Herbalife yang Baru saja didatangkan

Wednesday, July 8, 2015 @ 09:07 PM
posted by admin

Setelah ditunggu-tunggu, Akhirnya datang juga ke Indonesia, Alhamdulillah. Di negara lain mah sudah duluan lebih lama.

Saatnya Indonesia Semakin SEHAT dengan Niteworks Herbalife.

Siapa Dr. Louis J. Ignarro Ph.D yang menjelaskan di Vidoe di atas???

Dr. Louis J. Ignarro Ph.D Peraih NOBEL 1998 di bidang Kedokteran.
Penemuannya tentang NITRIC OXIDE, NITRIC OXIDE secara alamiah akan keluar dengan dukungan dari NITEWORKS HERBALIFE yang diminum.

read more

Beda Jenis Lemak Tubuh, Beda Pula Bahayanya

Thursday, July 2, 2015 @ 07:07 AM
posted by admin
KOMPAS.com – Lemak dalam tubuh ternyata ada bermacam-macam. Ada lemak coklat, lemak putih, lemak visceral, dan sebagainya. Beda lemaknya, beda juga bahayanya.
Untuk mengetahui jenis lemak apa yang ditimbun di tubuh Anda, ketahui ciri-cirinya.
- Jika Anda mudah membakar kalori, memiliki kadar gula normal, dan cenderung naik berat badan di musim dingin, maka Anda punya lebih banyak lemak coklat.
Dikenal juga sebagai jaringan adiposa coklat (brown adipose tissue/BAT), lemak ini banyak ditemukan di bagian punggung leher dan membantu mengubah makanan menjadi panas. Jika distimulasi oleh lingkungan dingin, lemak ini akan bekerja seperti otot, membakar kalori sebagai bahan bakar.
Orang dewasa dengan berat badan normal atau kurang kurang dari normal secara alami menyimpan 2-3 ons lemak coklat. Jumlah itu cukup untuk membakar 250 kalori sampai tiga jam. Lemak coklat juga membantu mengatur gula darah dan mencegah penyimpanan lemak saat kita makan berlebihan.
Jakarta, Berat badan sudah ideal atau bahkan turun selama sebulan berpuasa, yuk dijaga agar tak terus meroket naik. Mengapa? Dokter menyebutkan penambahan berat badan yang tak terjaga bisa menimbulkan beberapa risiko kesehatan, termasuk di antaranya penyakit jantung.
“Ketika puasa orang-orang lebih cenderung untuk makan dalam porsi sedikit dan teratur. Sedangkan ketika Lebaran, orang-orang akan lebih banyak mengisi perutnya dengan makanan ringan dan ngemil. Ngemil inilah yang dapat meningkatkan berat badan seseorang. Sebab dalam kue-kue Lebaran lebih banyak kadar karbohidrat dan kolesterol,” tutur ahli jantung dari RS Jantung Harapan Kita, dr Isman Firdaus, SpJP-FIHA, kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (6/8/2014).
dr Isman melanjutkan bahwa meningkatnya berat badan ini juga menimbulkan risiko penyakit kardiovaskular. Mengapa demikian?
“Hal itu dapat terjadi karena merusak lapisan endotel atau lapisan pembuluh darah koroner. Sama seperti kulit, jika lapisan ini rusak akan menyebabkan LDL (low density lipoprotein) atau lemak jahat dapat masuk ke dalam lapisan ini,” ungkapnya.
Firstrianisa Gustiawati – detikHealth
Bobot Naik Pasca Lebaran Justru Lebih Susah Diturunkan, Benarkah?Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Sebulan berpuasa, biasanya berat badan mengalami penurunan. Tapi setelah lebaran, dengan banyaknya kudapan yang tersedia, jarum timbangan bisa bergeser ke kanan, benarkah begitu?
“Berat badan yang naik turun saat puasa biasanya mengakibatkan efek yoyo. Kalau sudah terjadi memang sulit untuk diturunkan,” tutur dr Titi Sekarindah, MS, SpGK dari RS Pusat Pertamina ketika berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (6/8/2014).
Oleh karena itu, dr Titi menyarankan untuk tidak melakukan diet berlebihan saat puasa agar naik dan turunnya bobot tetap seimbang. Nah untuk mengatasi efek yoyo ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Disebutkan dr Titi, olahraga harus terus dilakukan dan diimbangi dengan pola makan yang sehat yang justru lebih efektif menurunkan berat badan karena porsi makan relatif seimbang. Porsi makan yang seimbang misalnya terdiri dari karbohidrat kompleks seperti beras merah, satu lauk, satu protein hewan, dan sayuran.

Berat Badan Naik Jadi Hal yang Paling Mengganggu Saat Lebaran

Thursday, July 2, 2015 @ 07:07 AM
posted by admin
Putro Agus Harnowo – detikHealth
Jakarta, Dalam berbagai budaya di masyarakat, kemeriahan hari raya selalu dilengkapi dengan suguhan beraneka ragam hidangan yang menggugah selera, tak terkecuali saat lebaran. Jika tidak dapat mengontrol diri, bisa-bisa berat badan langsung meroket usai hari raya. Selain itu, beberapa gangguan kesehatan lain juga dapat menyertai.
Ironis memang, lebaran memiliki konsekuensi lain yang bisa menjadi buruk bagi kesehatan. Ada beberapa risiko kesehatan yang bisa mengintai jika tidak hati-hati, mulai dari bertambah berat badan, ketularan pilek sampai kecelakaan lalu lintas. Mewaspadai ancaman tersebut setidaknya akan membuat liburan hari raya jadi lebih aman tanpa melupakan kemeriahannya.
Seperti dilansir US News dan Health.com, Rabu (22/8/2012), berbagai gangguan kesehatan yang sering terjadi ketika liburan dan hari raya antara lain:
1. Naik Berat Badan

Cuma Perut yang Buncit Lebih Bahaya Ketimbang Gemuk Rata

Thursday, July 2, 2015 @ 07:07 AM
posted by admin
Rahma Lillahi Sativa – detikHealth
Jakarta, Orang-orang dengan berat badan normal namun memiliki lemak perut alias perut buncit berisiko meninggal lebih tinggi akibat penyakit jantung daripada orang-orang yang mengalami obesitas dengan kegemukan yang rata.
“Studi kamu menunjukkan jika indeks massa tubuh (BMI) seseorang normal bukan berarti risiko terkena serangan jantungnya rendah. Jangan salah, hal ini justru bergantung pada distribusi lemak di dalam tubuhnya,” ujar salah satu peneliti Dr. Fransisco Lopez-Jimenez, seorang pakar kardiologi dari Mayo Clinic di Rochester, Minn.
Setelah mengamati 12.785 orang dewasa di AS selama 14 tahun, peneliti menemukan bahwa dalam kurun waktu itu diketahui ada 2.562 partisipan yang meninggal dunia, 1.138 diantaranya akibat penyakit jantung.

Buncit karena Lemak Visceral Tingkatkan Risiko Diabetes

Thursday, July 2, 2015 @ 07:07 AM
posted by admin
Linda Mayasari – detikHealth
Jakarta, Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu faktor risiko terbesar diabetes tipe 2. Tetapi risiko tersebut terjadi pada penderita obesitas yang disebabkan oleh timbunan jenis lemak tertentu. Kurangi risiko diabetes dengan membakar jenis lemak tersebut!
“Tidak semua orang yang menderita obesitas berisiko tinggi terhadap diabetes, hal ini tergantung pada jenis lemak apa yang menyebabkan kegemukan,” kata James de Lemos, MD, pemimpin studi dan profesor kedokteran internal di University of Texas Southwestern, seperti dilansir Prevention, Kamis (20/09/2012).
Obesitas bisa disebabkan oleh tumpukan lemak visceral, yaitu jenis lemak yang mengelilingi organ internal. Kelebihan lemak visceral di sekitar organ dalam biasanya ditandai dengan perut yang membuncit, atau disebut juga obesitas sentral.
Menurut sebuah studi baru di Journal of American Medical Association, jenis lemak ini diketahui berkontribusi terhadap peningkatan risiko diabetes.